Kamis, 05 Januari 2017

Cerpen

Tersembunyi

   Wanita muda itu terkapar disudut kamar. Matanya nanar, busa dimulutnya masih menggumpal menutupi mulut hingga hidungnya. Terlihat raut wajahnya yang sangat kusut dan pucat, badannya yang sangat lemas tidak berdaya. Wanita muda itu itu bernama Aldira Ralia yang menjadi mahasiswa di Universitas Tidar Magelang. Aldira ditemukan oleh kakaknya yang hendak membangunkan untuk menyuruh Aldira turun ke lantai bawah karena makan siang sudah siap disajikan. Arsita, kakaknya terkejut melihat adiknya yang terkapar lemas disudut kamar. Tak sampai hati Ia melihatnya, Ia langsung berteriak, "Maa.. mamaa Aldira maaa"
"Ada apa sih kau nak berteriak seperti itu, Aldira kenapa sayang?" jawab mamanya dengan tenang.
"Makanya mama kesini ke kamar Aldira, dia pingsan mulutnya penuh dengan busaa!!" ucap Arsita dengan penuh kecemasan.

   Apa yang terjadi itu membuat seluruh rumah gempar. Ibu dan kakaknya menangis tersedu-sedu di sebelah tubuh putri bungsunya. Mobil ambulan yang dipesan oleh kepala keluarga sampai sepuluh menit setelahnya.
Rumah sakit besar di daerah magelang menjadi tempat tujuan kali ini. Arsita yang menatap adiknya di dalam ambulan hanya bisa menangis. Apa yang Ia inginkan tidaklah seperti ini. Karena Ia sangat menyayangi adiknya itu dan dekat dengannya.
Ruang ICU di RSU Magelang menjadi tempat Aldira dibawa oleh pegawai berseragam putih itu. Bau khas obat mendominasi di tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi pertanyaan. Saat ini sepasang suami istri sedang saling menguatkan dan Arsita masih menutup wajah juga matanya yang sembab.
 "Siapa sebenarnya dalang dari semua ini?" lelaki yang kerap dipanggil papa itu mengeluarkan sumpah serapah.
 "Apa peduli papa dengan semua ini? papa hanya sibuk kerja, kerja, dan kerja. Aku dan Aldira tidak pernah papa pedulikan!" Arsita naik pitam. Wanita paruhbaya di sebelahnya hanya bisa menangis dan menangis. Airmatanya tumpah ruah membuat siapapun yang mendengarnya tidak tega.
 "Arsita! Sejak kapan kamu menjadi tidak punya atitude seperti ini!" lelaki itu berdiri siap memberi tamparan bebas pada putri sulungnya. Namun hal itu terhenti ketika suara pintu terbuka terdengar ditelinga mereka. Semua  bergegas mendekat. "Hanya satu yang boleh masuk" kata sang suster tanpa penjelasan apapun.
Ketiganya bertatap-tatapan. Maka tanpa pikir panjang Arsita masuk mendahului semuanya. Mendahului mama dan papanya yang mungkin juga ingin menjenguk adiknya.
Di mulut adiknya terpasang selang, sekaligus alat bantu bernafas. Benar-benar mengiris hati. Tangan arsita menggenggam tangan adiknya. Sang empunya tangan mengejapkan mata  tanda Ia sudah sadar. Arsita menatapnya sambil tersenyum. Aldira yang masih tak berdaya berusaha mengatakan sesuatu yang nampak tak jelas.
 "Kamu mau ngomong apa Al? Sinii biar kakak bantu?" kedua tangannya dengan sigap mengambil alat bantu oksigen dari mulut adiknya. Adiknya tersebut terengah-engah mulai kesulitan bernafas. "kakak jahat !" katanya disela nafas sengaunya.
Lalu, Arsita tersenyum penuh kemenangan. Diambilnya selimut di bawah adiknya dan sambil menatap kesekeliling gadis itu melipat selimut di bawah kaki adiknya. Melipat kemudian menggunakanya untuk menutupi wajah adiknya. Menindihnya dengan kuat.
 "Jika ibuku bisa mati karena mama angkat atau ibu kandungmu itu, apa salahnya jika aku juga melakukanya padamu. Kau pantas mendapatkan ini, darah daging wanita itu pantas mendapat semua ini. Maka denganmu aku dapat membalaskan rasa sakitku ketika kehilangan ibu. Semoga kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkanmu seperti sebelumnya. Mungkin kamu memang beruntung sempat selamat dari racun yang aku berikan tapi tidak untuk kali ini dear"


   Sehingga malam itu menjadi saksi bagaimana terbalasnya rasa sakit yang selama ini terpendam dan terkuaklah apa yang selama ini tertutupi dengan rapi. Aldira tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Begitu pula Arsita yang tak pernah tahu bahwa hidupnya akan di habiskan di Rumah Sakit Jiwa dan sekaligus menjadi pengidap kelainan jiwa semenjak ibu kandungnya meninggal diusianya yang masih belia. Tidak ada yang tahu bagaimana akhir hidup seseorang dan tidak ada yang tau bagaimana tuhan menggambar garis takdir bagi seluruh umat manusia.