Tersembunyi
Wanita muda itu terkapar disudut kamar. Matanya nanar, busa dimulutnya
masih menggumpal menutupi mulut hingga hidungnya. Terlihat raut wajahnya yang
sangat kusut dan pucat, badannya yang sangat lemas tidak berdaya. Wanita muda
itu itu bernama Aldira Ralia yang menjadi mahasiswa di Universitas Tidar
Magelang. Aldira ditemukan oleh kakaknya yang hendak membangunkan untuk
menyuruh Aldira turun ke lantai bawah karena makan siang sudah siap disajikan.
Arsita, kakaknya terkejut melihat adiknya yang terkapar lemas disudut kamar.
Tak sampai hati Ia melihatnya, Ia langsung berteriak, "Maa.. mamaa Aldira
maaa"
"Ada apa sih kau nak berteriak
seperti itu, Aldira kenapa sayang?" jawab mamanya dengan tenang.
"Makanya mama kesini ke kamar
Aldira, dia pingsan mulutnya penuh dengan busaa!!" ucap Arsita dengan
penuh kecemasan.
Apa yang terjadi itu membuat seluruh rumah gempar. Ibu dan kakaknya
menangis tersedu-sedu di sebelah tubuh putri bungsunya. Mobil ambulan yang dipesan
oleh kepala keluarga sampai sepuluh menit setelahnya.
Rumah sakit besar di daerah magelang
menjadi tempat tujuan kali ini. Arsita yang menatap adiknya di dalam ambulan
hanya bisa menangis. Apa yang Ia inginkan tidaklah seperti ini. Karena Ia
sangat menyayangi adiknya itu dan dekat dengannya.
Ruang ICU di RSU Magelang menjadi
tempat Aldira dibawa oleh pegawai berseragam putih itu. Bau khas obat
mendominasi di tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi
pertanyaan. Saat ini sepasang suami istri sedang saling menguatkan dan Arsita
masih menutup wajah juga matanya yang sembab.
"Siapa sebenarnya dalang dari semua ini?" lelaki yang kerap dipanggil papa itu mengeluarkan sumpah serapah.
"Apa peduli papa dengan semua ini? papa
hanya sibuk kerja, kerja, dan kerja. Aku dan Aldira tidak pernah papa pedulikan!"
Arsita naik pitam. Wanita paruhbaya di sebelahnya hanya bisa menangis dan
menangis. Airmatanya tumpah ruah membuat siapapun yang mendengarnya tidak tega.
"Arsita! Sejak kapan kamu menjadi tidak
punya atitude seperti ini!" lelaki itu berdiri siap memberi tamparan bebas
pada putri sulungnya. Namun hal itu terhenti ketika suara pintu terbuka
terdengar ditelinga mereka. Semua bergegas mendekat. "Hanya satu yang boleh
masuk" kata sang suster tanpa penjelasan apapun.
Ketiganya bertatap-tatapan. Maka
tanpa pikir panjang Arsita masuk mendahului semuanya. Mendahului mama dan papanya
yang mungkin juga ingin menjenguk adiknya.
Di mulut adiknya terpasang selang,
sekaligus alat bantu bernafas. Benar-benar mengiris hati. Tangan arsita menggenggam
tangan adiknya. Sang empunya tangan mengejapkan mata tanda Ia sudah sadar. Arsita menatapnya
sambil tersenyum. Aldira yang masih tak berdaya berusaha mengatakan sesuatu
yang nampak tak jelas.
"Kamu mau ngomong apa Al? Sinii biar
kakak bantu?" kedua tangannya dengan sigap mengambil alat bantu oksigen
dari mulut adiknya. Adiknya tersebut terengah-engah mulai kesulitan bernafas.
"kakak jahat !" katanya disela nafas sengaunya.
Lalu, Arsita tersenyum penuh
kemenangan. Diambilnya selimut di bawah adiknya dan sambil menatap kesekeliling
gadis itu melipat selimut di bawah kaki adiknya. Melipat kemudian menggunakanya
untuk menutupi wajah adiknya. Menindihnya dengan kuat.
"Jika ibuku bisa mati karena mama angkat
atau ibu kandungmu itu, apa salahnya jika aku juga melakukanya padamu. Kau
pantas mendapatkan ini, darah daging wanita itu pantas mendapat semua ini. Maka
denganmu aku dapat membalaskan rasa sakitku ketika kehilangan ibu. Semoga kali
ini tidak ada yang bisa menyelamatkanmu seperti sebelumnya. Mungkin kamu memang
beruntung sempat selamat dari racun yang aku berikan tapi tidak untuk kali ini dear"
Sehingga malam itu menjadi saksi bagaimana terbalasnya rasa sakit yang
selama ini terpendam dan terkuaklah apa yang selama ini tertutupi dengan rapi. Aldira
tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini. Begitu pula Arsita
yang tak pernah tahu bahwa hidupnya akan di habiskan di Rumah Sakit Jiwa dan
sekaligus menjadi pengidap kelainan jiwa semenjak ibu kandungnya meninggal diusianya
yang masih belia. Tidak ada yang tahu bagaimana akhir hidup seseorang dan tidak
ada yang tau bagaimana tuhan menggambar garis takdir bagi seluruh umat manusia.
Ya, terima kasih. Mohon hati-hati dalam penulisan, huruf kapital (untuk nama orang, kota, sapaan, termasuk dalam dialog. Penggunaan kata depan 'di" yang mestinya dipisah, tetapi malah Anda gabung. Sekadar contoh berikut saya kutipkan pembetulan saya (sebagian) berikut.
BalasHapusTersembunyi
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar, busa di mulutnya masih menggumpal menutupi mulut hingga hidungnya. Terlihat raut wajahnya yang sangat kusut dan pucat. Badannya yang sangat lemas tidak berdaya. Wanita muda itu itu bernama Aldira Ralia yang menjadi mahasiswa di Universitas Tidar Magelang. Aldira ditemukan oleh kakaknya yang hendak membangunkan untuk menyuruh Aldira turun ke lantai bawah karena makan siang sudah siap disajikan. Arsita, kakaknya terkejut melihat adiknya yang terkapar lemas di sudut kamar. Tak sampai hati ia melihatnya, ia langsung berteriak, "Maa.. Mamaa Aldira Maaa."
"Ada apa sih kau nak berteriak seperti itu, Aldira kenapa sayang?" jawab mamanya dengan tenang.
"Makanya Mama ke sini ke kamar Aldira, dia pingsan mulutnya penuh dengan busaa!!" ucap Arsita dengan penuh kecemasan.
Apa yang terjadi itu membuat seluruh rumah gempar. Ibu dan kakaknya menangis tersedu-sedu di sebelah tubuh putri bungsunya. Mobil ambulan yang dipesan oleh kepala keluarga sampai sepuluh menit setelahnya.
Rumah sakit besar di daerah Magelang menjadi tempat tujuan kali ini. Arsita yang menatap adiknya di dalam ambulan hanya bisa menangis. Apa yang ia inginkan tidaklah seperti ini. Karena ia sangat menyayangi adiknya itu dan dekat dengannya.
Ruang ICU di RSU Magelang menjadi tempat Aldira dibawa oleh pegawai berseragam putih itu. Bau khas obat mendominasi di tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi pertanyaan. Saat ini sepasang suami istri sedang saling menguatkan dan Arsita masih menutup wajah juga matanya yang sembab.
"Siapa sebenarnya dalang dari semua ini?" lelaki yang kerap dipanggil papa itu mengeluarkan sumpah serapah.
"Apa peduli Papa dengan semua ini? Papa hanya sibuk kerja, kerja, dan kerja. Aku dan Aldira tidak pernah Papa pedulikan!" Arsita naik pitam. Wanita paruh baya di sebelahnya hanya bisa menangis dan menangis. Airmatanya tumpah ruah membuat siapa pun yang mendengarnya tidak tega.
"Arsita! Sejak kapan kamu menjadi tidak punya atitude seperti ini!" lelaki itu berdiri siap memberi tamparan bebas pada putri sulungnya. Namun, hal itu terhenti ketika suara pintu terbuka terdengar di telinga mereka. Semua bergegas mendekat. "Hanya satu yang boleh masuk, " kata sang suster tanpa penjelasan apa pun.